Genjot Produksi dan Sosialisasi Pertanian Modern
Tanaman apa yang tetap bertahan saat krisis ekonomi melanda Tanah Air? Jawabnya, anggrek. Kemudian tanaman apa yang tetap terjual tanpa mengikuti tren dan persiangan pasar tanaman hias?Jawabannya adalah anggrek. Dan tanaman apa yang memberikan gengsi pada pemiliknya, karena dikenal susah dipelihara?Jawabannya adalah anggrek.
Anggrek memang tanaman sepanjang masa yang terkenal dengan keindahan bentuk dan warna bunga. Di Tanah Air, hampir setiap daerah mempunyai jenis tanaman ini, baik yang ada di hutan maupun tinggal di rumah-rumah para kolektor. Beruntung sekali untuk wilayah di Jawa Timur (Jatim), karena wilayah ini mempunyai potensi anggrek terbesar di Indonesia.
Meski bisa tumbuh di wilayah panas, tetap saja lokasi yang dingin dengan jarak lebih dari 500 m dari permukaan air laut, jadi habitat terbaik tanaman ini. Di sini, Jatim menempatkan pelaku industri anggrek di kawasan Pacet-Mojokerto, Prigen-Pasuruan sampai Batu-Malang. Ketiga lokasi ini yang memberikan andil paling besar untuk menjadikan Jatim sebagai propinsi anggrek.
Menurut Pembudidaya dan Tokoh Anggrek Nasional asal Prigen Jatim, Wirakusuma S, potensi anggrek di wilayah ini lebih pada kombinasi silangan serta perbanyakan. Sebab, selain komunitas yang sudah terbentuk, pasar juga sudah merespon baik produk yang dihasilkan dari ketiga lokasi di Jatim ini.
“Memang Kalimantan dikenal dengan anggrek asli hutan, namun secara kualitas dan kuantitas, Jatim punya keunggulan,” ujar Wirakusuma.
Posted in Anggrek | 2 Comments »
Konsep Penjurian Bonsai (2 Habis)
November 12, 2008 by tabloidgallery
Pahami Aturan untuk Juara
Menang-kalah dalam kontes memang tak bisa dipastikan, tapi semakin dekat dengan konsep penjurian, maka nilai tinggi akan lebih mudah dicapai. Tanpa menghilangkan nilai idealisme seni, bonsai tetap memberikan nilai tinggi. Bahkan dengan melihat aturan tersebut, mampu meningkatkan ketajaman seni dari pebonsai pemula.
Wawang Sawala, Juri Bonsai Indonesia, mengaku kalau masih ada pebonsai yang ikut dalam kontes, tapi tak mengerti apa saja yang dinilai. Sebab, masih banyak yang menilai bonsai sebagai satu karya seni yang hanya dilihat sebagai seni tanpa ada aturan baku.
Padahal bila dilihat ke belakang – di edisi Tabloid Gallery sebelumnya – kontes bonsai penuh dengan tahapan penilaian yang kompleks. Akhirnya yang ada saat kontes adalah peserta protes kenapa miliknya tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
“Saat dibalik Tanya, apa mereka mengerti apa saja yang dinilai, baru mereka diam. Dan ironisnya, hampir di setiap kontes akan muncul pebonsai yang mengungkapkan kekecewaan yang sama, tanpa tahu sebabnya,” ungkap Wawang. Continue Reading »



Tidak ada komentar:
Posting Komentar